Kembali ke daftar artikel

Indonesia Pimpin Ekspor Briket Kelapa saat Biaya Logistik Naik

Indonesia memasok lebih dari 44% ekspor briket arang kelapa dunia. Artikel ini membahas pasar, tekanan pengiriman 2026, dan standar yang dicari pembeli.

  • arang-kelapa
  • ekspor-briket
  • indonesia
  • logistik-pengiriman
Kubus arang kelapa membara di atas mangkuk shisha di lounge bergaya Timur Tengah, dengan kapal kontainer di tengah badai terlihat dari jendela melengkung.

Di tengah gangguan jalur pelayaran global akibat ketegangan geopolitik, industri briket arang tempurung kelapa Indonesia masih mencatat permintaan yang stabil. Tempurung kelapa yang dulu dianggap limbah pertanian kini menjadi komoditas ekspor bernilai. Indonesia memasok lebih dari 44% volume ekspor dunia, sehingga menjadi salah satu pemasok utama bahan bakar biomassa ramah lingkungan.

Pasar Global yang Terus Tumbuh, dengan Indonesia di Pusatnya

Data pasar menunjukkan pertumbuhan yang stabil. Pasar briket arang kelapa global diperkirakan mencapai USD 5,68 miliar pada 2026, naik dari USD 5,26 miliar pada 2025, dan diproyeksikan mencapai USD 7,64 miliar pada 2030, dengan laju pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sekitar 7,7–8%. Pendorong pertumbuhan ini relatif konsisten dari tahun ke tahun:

  • Meningkatnya permintaan bahan bakar rendah emisi
  • Maraknya masak di luar ruangan
  • Meluasnya budaya barbekyu dan kafe shisha di berbagai benua

Di sisi pasokan, Indonesia memegang porsi terbesar. Menurut DataIntelo, Indonesia mengekspor sekitar 320.000 metrik ton briket arang kelapa pada 2025, atau lebih dari 44% total volume ekspor global, sehingga menjadi eksportir terbesar di dunia.

Data terbaru dari platform intelijen perdagangan TradeInt menunjukkan nilai ekspor briket Indonesia pada 2026 (angka sementara) sebesar USD 56,51 juta dari 1.628 pengiriman. Briket arang tempurung kelapa (kode Harmonized System, HS, 440220) menyumbang 84,61% dari total nilai tersebut.

Tujuan Ekspor Utama (2026, sementara)

  • Arab Saudi: USD 10,11 juta (tujuan tunggal terbesar)
  • Turki: USD 7,38 juta
  • Jerman: USD 5,64 juta

Pola ini menunjukkan bahwa Timur Tengah, bersama Turki dan pasar Levant seperti Lebanon, Irak, dan Yordania, menyerap porsi terbesar ekspor briket Indonesia, didorong oleh tingginya permintaan arang kualitas premium untuk shisha dan hookah.

Mengapa Briket Kelapa Indonesia Cocok dengan Selera dan Regulasi Timur Tengah

Pembeli menghargai kualitas teknis produk ini. Dibandingkan arang kayu atau batu bara konvensional, briket kelapa premium pada umumnya:

  1. Menghasilkan kadar abu di bawah 3%
  2. Hampir tidak menimbulkan asap dan bau
  3. Menyala lebih dari dua jam pada suhu stabil
  4. Menghasilkan emisi karbon hingga 35% lebih rendah daripada batu bara konvensional

Karakteristik ini sejalan dengan regulasi emisi yang makin ketat di Timur Tengah dan Eropa. Karakteristik ini juga sesuai dengan kebiasaan setempat: sesi shisha yang panjang di kafe dan pertemuan majlis membutuhkan arang yang tidak mengubah rasa tembakau dan aman dipakai di dalam ruangan.

Tiga Tantangan Struktural bagi Eksportir pada 2026

Permintaan mungkin tetap stabil, tetapi tiga masalah struktural menekan eksportir Indonesia tahun ini.

  1. Krisis biaya logistik akibat ketidakstabilan geopolitik. Eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz dan gangguan di koridor Laut Merah–Terusan Suez, memaksa kapal kargo mengambil rute yang lebih panjang melintasi Afrika. Tarif angkut melonjak, premi asuransi kargo naik, dan beberapa perusahaan pelayaran sempat menghentikan sementara pemesanan ke kawasan Teluk. Kementerian Perdagangan Indonesia telah memproyeksikan pertumbuhan ekspor nasional yang lebih lambat pada 2026 akibat naiknya biaya logistik, meski permintaan dari pembeli Timur Tengah dilaporkan tetap stabil.
  2. Pergeseran ke standar lingkungan yang terverifikasi dan berbasis sains. Pembeli internasional kini meminta bukti keberlanjutan, bukan sekadar label “ramah lingkungan” di kemasan. Cakupannya meliputi asal bahan baku, proses tanpa bahan kimia, dan sertifikasi keselamatan pengiriman.
  3. Persaingan yang makin ketat pada kualitas premium. Vietnam dan Filipina memperbesar kapasitas produksi dengan harga yang lebih kompetitif, sehingga eksportir Indonesia harus bersaing pada kualitas dan konsistensi, bukan hanya harga.

Solusi: dari Efisiensi Pengiriman hingga Sertifikasi Keselamatan

1. Mengatasi Krisis Biaya Logistik

  • Co-loading full container load (FCL): Menggabungkan pengiriman satu kontainer penuh antar eksportir untuk menekan biaya angkut per unit di tengah terbatasnya slot kapal ke rute Teluk.
  • Kemitraan gudang hub di Timur Tengah: Memungkinkan stok didistribusikan cepat ke pembeli akhir tanpa bergantung pada satu rute pelayaran jarak jauh untuk setiap pesanan.
  • Kontrak jangka panjang dengan pembeli dan penyedia logistik: Komitmen volume pengiriman di muka memberi eksportir ruang lebih besar untuk menegosiasikan tarif yang stabil, alih-alih terpapar harga pasar spot yang fluktuatif. Cara ini juga menjaga konsistensi kualitas lewat hubungan dagang yang berkelanjutan dan saling menguntungkan.

2. Memenuhi Pergeseran ke Standar Ramah Lingkungan

  • Formulasi produk tanpa bahan kimia: Tanpa perekat sintetis, pewangi, atau pemutih abu; hanya arang tempurung kelapa yang digiling dan perekat alami.
  • Karbonisasi penuh di atas 80%: Menghasilkan arang yang menyala lebih lama dan meninggalkan lapisan abu putih tipis di bawah 3%, tolok ukur mutu yang selaras dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk briket arang tempurung kelapa.
  • Sumber bahan baku zero-waste: Memastikan tempurung kelapa yang diolah berasal dari limbah pertanian, bukan dari sumber daya yang baru dieksploitasi, sehingga klaim keberlanjutan lebih kuat di hadapan pembeli dan auditor sertifikasi.

3. Bersaing lewat Standar Keselamatan dan Kemasan Premium

  • Material Safety Data Sheet (MSDS): Memastikan setiap pengiriman ekspor disertai MSDS, yang merupakan dokumen ekspor wajib sekaligus bukti transparan mutu bagi pembeli.
  • Sertifikasi Non-Self-Heating IMDG Kelas 4.2 (International Maritime Dangerous Goods): Produk didukung hasil uji laboratorium independen yang menyatakan briket tidak memanas sendiri. Arang tempurung kelapa tergolong barang berbahaya di bawah IMDG Kelas 4.2 (berpotensi terbakar spontan), sehingga sertifikasi ini menjadi syarat mutlak agar layak dimuat ke kontainer.
  • Kemasan dua lapis: Lapisan plastik dalam yang tebal dan food-grade menjaga kelembapan tetap stabil selama pelayaran, dipadukan dengan lapisan luar yang kuat untuk mencegah gesekan berlebihan antarbriket yang bisa merusak bentuk kubus atau heksagonalnya sebelum sampai ke konsumen akhir. Bentuk yang utuh tetap menjadi penanda mutu penting di pasar shisha premium Timur Tengah.

Prospek ke Depan

Dengan keunggulan bahan baku, pengendalian mutu, dan mitigasi risiko logistik yang terukur, Indonesia memiliki landasan yang kuat untuk mempertahankan posisinya sebagai salah satu eksportir utama briket arang kelapa selama siklus pertumbuhan 2026–2030 yang diproyeksikan.

Mempertahankan posisi itu akan bergantung pada seberapa cepat produsen dalam negeri menerapkan standar keselamatan dan keberlanjutan yang terverifikasi, bukan hanya mengandalkan keunggulan bahan baku.

Referensi

  1. Research and Markets: Coconut Charcoal Briquettes Market Report 2026
  2. DataIntelo: Coconut Charcoal Briquettes Market Research Report 2034 (dikutip melalui Hi-Fella Insights, 2026)
  3. TradeInt Indonesia: Indonesia Briquette Exports 2026: Destination Countries, Product Types, and Leading Exporters
  4. Kompas.com (Agri): Coconut Charcoal Briquettes: Waste Turned Export Commodity, 8 Desember 2025
  5. ResearchReportsWorld: Coconut Shell Charcoal Market Size and Growth Report, 2035
  6. Suara.com: Iran-US-Israel Conflict Escalation Starts to “Squeeze” Indonesia’s Export Costs to the Middle East, 13 Maret 2026
  7. Logistiknews.id: Beyond Soaring Freight Rates, Middle East War Weighs on Exports, 13 April 2026
  8. Asatunews.co.id: Trade Ministry Projects Slower 2026 Indonesian Export Growth Due to Middle East Conflict, 27 Maret 2026
  9. Bandung Institute of Technology (ITB), Chemistry Program: Charcoal: Understanding Commodity, Global Value, and Fire Risk Handling (IMDG Class 4.2 classification)
  10. Jurnal MOMENTUM, Unwahas: Quality Testing of Coconut Shell Charcoal Briquette Products (SNI parameter reference)

Kembali ke daftar artikel

Ada pertanyaan untuk pesanan Anda berikutnya?

Sampaikan grade, kemasan, dan tujuan pengiriman. Kami balas lewat email atau WhatsApp.